Properti Apa Saja yang Diperlukan dalam Pementasan Tari Sirih Kuning
Tari Sirih Kuning merupakan salah satu
tarian tradisional yang berasal dari Betawi,
Jakarta. Tarian ini sangat terkenal karena sarat dengan makna, keanggunan
gerak, dan nilai budaya yang tinggi. Tari Sirih Kuning sering ditampilkan dalam
acara-acara adat Betawi, seperti pernikahan, penyambutan tamu
kehormatan, atau festival budaya. Dalam setiap pementasannya, tarian ini
tidak hanya mengandalkan keindahan gerak penari, tetapi juga didukung oleh
berbagai properti tari yang menjadi bagian penting untuk
memperkuat makna dan keindahan visualnya.
Lalu, apa saja properti yang diperlukan dalam
pementasan Tari Sirih Kuning? Untuk memahami hal tersebut, kita perlu
melihat makna dari tarian ini serta fungsi dari setiap properti yang digunakan.
1. Makna dan Filosofi Tari Sirih Kuning
Tari Sirih Kuning memiliki makna yang sangat mendalam dalam
kehidupan masyarakat Betawi. Kata “sirih” sendiri merujuk pada daun sirih,
tanaman yang sering digunakan dalam berbagai tradisi Indonesia, terutama
sebagai simbol persahabatan, penghormatan, dan penyambutan.
Sementara “kuning” melambangkan keagungan, kebahagiaan, dan kemuliaan.
Tarian ini biasanya menggambarkan kisah pertemuan
dua insan yang saling jatuh cinta atau penyambutan tamu dengan
penuh keramahan. Karena itu, dalam pementasannya, properti yang digunakan
bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan
pesan cinta, hormat, dan kegembiraan.
2. Properti Utama dalam Tari Sirih Kuning
Berikut adalah berbagai properti utama yang digunakan dalam
pementasan Tari Sirih Kuning beserta fungsinya:
a. Sirih dan Pinang
Properti paling penting dan menjadi ciri khas utama dalam
tarian ini adalah daun sirih dan buah pinang. Kedua benda ini
biasanya dibungkus dalam wadah kecil atau tempat khusus yang
disebut tepak sirih. Dalam budaya Betawi, sirih dan pinang merupakan
simbol keramahan dan penghormatan kepada tamu.
Dalam tarian, penari perempuan biasanya membawa tepak
sirih lalu menyerahkannya kepada penari laki-laki sebagai simbol
cinta, kasih, atau penghargaan. Adegan ini merupakan bagian paling sakral dari
Tari Sirih Kuning karena menggambarkan ikatan kasih dan penghormatan
antar manusia.
b. Tepak Sirih
Tepak sirih adalah wadah kecil berbentuk kotak
yang biasanya terbuat dari kuningan, perak, atau kayu berukir, dan
di dalamnya berisi sirih, pinang, kapur, dan gambir. Properti ini
menjadi ikon utama dalam Tari Sirih Kuning.
Selain fungsi simbolisnya, tepak sirih juga memperindah
tampilan penari karena sering kali dihiasi dengan motif khas Betawi yang
berwarna keemasan. Dalam gerakan tari, tepak sirih digunakan
secara lembut dan penuh kehati-hatian, menandakan nilai sopan santun masyarakat
Betawi.
c. Kostum Penari
Kostum atau busana yang digunakan dalam Tari Sirih Kuning
juga merupakan bagian dari properti penting. Biasanya, penari perempuan mengenakan kebaya
encim dengan warna cerah seperti kuning, merah, atau hijau muda,
dipadukan dengan selendang dan kain batik Betawi bermotif
geometris atau flora.
Sementara itu, penari laki-laki memakai baju sadariah, celana
pangsi, dan sabuk warna mencolok, serta peci hitam atau
topi Betawi. Warna kostum ini melambangkan kegembiraan dan keramahan,
sekaligus mempertegas identitas budaya Betawi yang ceria dan terbuka.
d. Selendang
Selendang menjadi properti penting lainnya dalam Tari Sirih
Kuning. Biasanya selendang digunakan oleh penari perempuan untuk memperindah
gerak tangan dan tubuh. Selain itu, dalam konteks tarian, selendang
juga melambangkan keanggunan dan kelembutan perempuan Betawi.
Gerakan memutar, melambai, dan mengayunkan selendang menambah unsur estetika
dan romantika dalam pementasan, terutama saat adegan penyerahan sirih kepada
pasangan penari laki-laki.
e. Payung
Dalam beberapa versi pertunjukan Tari Sirih Kuning,
properti payung
kecil berwarna kuning atau emas juga digunakan. Payung
berfungsi sebagai simbol perlindungan dan penghormatan kepada
tamu atau pasangan. Biasanya, penari laki-laki memegang payung untuk menaungi
penari perempuan, menggambarkan sikap sopan, perhatian, dan kasih sayang.
f. Musik dan Alat Pengiring
Meskipun bukan properti fisik yang dibawa oleh penari, alat
musik pengiring juga termasuk bagian dari properti pementasan. Tari
Sirih Kuning biasanya diiringi oleh gambang kromong, rebana,
atau biola Betawi, yang menciptakan suasana riang dan romantis.
Lagu “Sirih Kuning” yang khas menjadi pengiring utama tarian ini. Ritme
musiknya lembut di awal, lalu meningkat pada bagian tengah dan akhir,
menggambarkan dinamika perasaan cinta dan kebahagiaan.
3. Tata Rias dan Aksesori Penari
Selain properti utama, tata rias dan aksesori juga
memiliki peran penting untuk menonjolkan karakter penari dan memperindah
tampilan di atas panggung.
a. Rias Wajah
Riasan wajah penari biasanya dibuat lembut dan
natural, dengan sedikit sentuhan merah muda atau keemasan pada pipi dan
mata. Hal ini menonjolkan kesan ceria, sopan, dan bersahaja.
b. Aksesori Kepala
Penari perempuan sering mengenakan sanggul Betawi dengan
hiasan bunga melati atau hiasan emas kecil, sementara penari laki-laki
memakai peci atau topi khas Betawi. Kedua aksesori ini memperkuat
identitas budaya dalam pementasan.
4. Makna Simbolis di Balik Properti Tari Sirih Kuning
Setiap properti dalam Tari Sirih Kuning bukan hanya
berfungsi estetis, tetapi juga memiliki makna simbolis yang mendalam,
antara lain:
- Sirih
dan pinang → simbol kasih, penghormatan, dan keakraban.
- Tepak
sirih → lambang kesucian hati dan niat baik.
- Selendang →
melambangkan keanggunan serta hubungan harmonis antara pria dan wanita.
- Kostum
berwarna cerah → menggambarkan kebahagiaan dan kemakmuran.
- Payung →
perlindungan dan rasa kasih sayang.
Dengan demikian, seluruh properti bekerja bersama-sama untuk
menciptakan harmoni visual sekaligus memperkuat pesan moral dari tarian
ini: bahwa cinta, kesopanan, dan penghormatan adalah bagian penting
dalam kehidupan manusia.
5. Kesimpulan
Properti dalam
Tari Sirih Kuning memiliki peran yang sangat penting, baik dari segi estetika
maupun makna budaya. Tanpa properti seperti sirih, tepak sirih,
selendang, payung, dan kostum khas Betawi, pementasan tidak akan memiliki
kekuatan simbolik yang sama.
Tarian ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga warisan
budaya yang mencerminkan filosofi hidup masyarakat Betawi — penuh
kasih, ramah, dan menjunjung tinggi nilai kesopanan. Melalui properti-properti
tersebut, Tari Sirih Kuning terus hidup dan berkembang sebagai kebanggaan
budaya Indonesia yang patut dijaga dan dilestarikan.