Dari Sales ke Marketing Communication: Fazar Hidayat dan Seni Membangun Pengalaman Pelanggan di Pusat Perbelanjaan

Propertioo.com-

Dari Sales ke Marketing Communication: Fazar Hidayat dan Seni Membangun Pengalaman Pelanggan di Pusat Perbelanjaan

Marketing bukan sekadar tentang membuat orang datang, melainkan tentang menciptakan alasan agar mereka ingin kembali.

Di tengah persaingan industri pusat perbelanjaan yang semakin dinamis, strategi pemasaran tidak lagi cukup hanya mengandalkan promosi, diskon, atau kemeriahan acara. Mall kini dituntut untuk mampu membangun pengalaman, menciptakan hubungan emosional dengan pengunjung, dan mempertahankan loyalitas pelanggan di tengah perubahan perilaku konsumen.

Bagi Fazar Hidayat, perjalanan di dunia pemasaran merupakan proses yang dibangun dari pengalaman langsung di lapangan. Mengawali karier sebagai Sales, kemudian Customer Service, hingga berkembang di bidang Marketing Communication, setiap tahapan memberikan perspektif berbeda tentang bagaimana memahami pelanggan, membangun hubungan, dan menciptakan strategi pemasaran yang relevan.

Saat ini, dalam menjalankan peran di bidang Marketing Communication pada industri pusat perbelanjaan, Fazar tidak hanya berfokus pada bagaimana sebuah program pemasaran dapat menarik perhatian publik, tetapi juga bagaimana program tersebut mampu memberikan dampak terhadap bisnis, meningkatkan keterlibatan pengunjung, dan membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Perjalanan tersebut membentuk satu pemahaman penting: pemasaran yang efektif selalu dimulai dari kemampuan memahami manusia.

Memulai dari Sales: Memahami Kebutuhan dan Perilaku Konsumen

Setiap perjalanan profesional memiliki fondasi. Bagi Fazar, pengalaman di bidang Sales menjadi salah satu fondasi penting dalam memahami dunia pemasaran.

Sales mengajarkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menawarkan produk atau jasa, tetapi juga oleh kemampuan mengenali kebutuhan pelanggan, membangun kepercayaan, memahami keberatan, dan memberikan solusi yang tepat.

Di lapangan, seorang tenaga penjualan berhadapan langsung dengan beragam karakter konsumen. Ada pelanggan yang mempertimbangkan harga, ada yang mengutamakan kualitas, dan ada pula yang lebih tertarik pada pengalaman serta nilai tambah yang ditawarkan.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa setiap pelanggan memiliki motivasi yang berbeda.

Pemahaman ini menjadi bekal penting ketika memasuki dunia Marketing Communication. Sebuah kampanye tidak seharusnya hanya berangkat dari ide kreatif, tetapi juga perlu didukung pemahaman mengenai siapa target audiensnya, apa yang mereka butuhkan, dan alasan apa yang dapat mendorong mereka mengambil keputusan.

Dalam konteks pusat perbelanjaan, pemahaman tersebut sangat relevan. Pengunjung tidak selalu datang hanya untuk berbelanja. Sebagian datang untuk menikmati kuliner, menghabiskan waktu bersama keluarga, mencari hiburan, bertemu teman, atau sekadar menikmati suasana.

Dengan memahami berbagai motivasi tersebut, strategi pemasaran dapat dirancang agar lebih dekat dengan kebutuhan pengunjung.

Customer Service: Ketika Pengalaman Pelanggan Menjadi Prioritas

Perjalanan berikutnya di bidang Customer Service memberikan sudut pandang yang berbeda.

Jika Sales mengajarkan cara memahami kebutuhan pelanggan sebelum transaksi terjadi, Customer Service memperlihatkan pentingnya menjaga hubungan setelah pelanggan berinteraksi dengan sebuah bisnis.

Dalam industri pusat perbelanjaan, pengalaman pelanggan tidak hanya dibentuk oleh tenant yang dikunjungi atau promosi yang digunakan. Pengalaman tersebut juga dipengaruhi oleh kemudahan memperoleh informasi, keramahan petugas, penanganan keluhan, fasilitas yang tersedia, hingga kecepatan dalam memberikan solusi.

Satu pengalaman negatif yang tidak ditangani dengan baik dapat memengaruhi persepsi pengunjung terhadap keseluruhan mall. Sebaliknya, penanganan keluhan yang responsif dan profesional dapat menjadi kesempatan untuk membangun kembali kepercayaan.

Dari perspektif ini, Customer Service bukan sekadar fungsi operasional yang menjawab pertanyaan atau menerima keluhan. Customer Service juga merupakan salah satu sumber informasi strategis bagi perusahaan.

Keluhan pelanggan dapat menjadi indikator adanya masalah dalam pelayanan. Pertanyaan yang sering muncul dapat menunjukkan kebutuhan informasi yang belum terpenuhi. Sementara itu, masukan pengunjung dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan program atau meningkatkan kualitas pengalaman berkunjung.

Bagi seorang profesional marketing, informasi tersebut memiliki nilai yang besar.

Sebab, strategi pemasaran yang baik tidak hanya berbicara tentang bagaimana perusahaan menyampaikan pesan kepada pelanggan, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan mendengarkan pelanggan dan menerjemahkan kebutuhan mereka menjadi tindakan nyata.

Marketing Communication di Mall: Lebih dari Sekadar Promosi dan Event

Memasuki bidang Marketing Communication membawa tanggung jawab yang lebih luas. Pada industri pusat perbelanjaan, fungsi ini memiliki peran strategis dalam membangun citra mall, meningkatkan awareness, menarik kunjungan, mendukung aktivitas tenant, serta menciptakan komunikasi yang konsisten dengan target pasar.

Namun, Marketing Communication yang efektif tidak cukup hanya menghasilkan materi promosi yang menarik atau menyelenggarakan event yang ramai.

Ada beberapa aspek penting yang perlu dikelola secara terintegrasi.

1. Membangun Brand Awareness dan Positioning Mall

Setiap pusat perbelanjaan perlu memiliki identitas dan alasan yang jelas mengapa masyarakat harus memilihnya dibandingkan destinasi lain.

Positioning dapat dibangun melalui keunggulan tenant, kemudahan akses, kelengkapan fasilitas, pilihan kuliner, program hiburan, komunitas, maupun pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.

Tugas Marketing Communication adalah menerjemahkan keunggulan tersebut menjadi pesan yang relevan, konsisten, dan mudah diingat.

Tujuannya bukan hanya membuat masyarakat mengenal nama mall, melainkan membentuk persepsi yang positif sehingga mall memiliki tempat tersendiri di benak konsumen.

2. Mengelola Campaign dan Aktivitas Pemasaran

Campaign merupakan salah satu instrumen untuk menciptakan alasan bagi pengunjung agar datang dan beraktivitas di mall.

Program dapat dikembangkan berdasarkan momentum tertentu, seperti hari raya, liburan sekolah, akhir tahun, atau perayaan nasional. Selain itu, campaign juga dapat dirancang berdasarkan perilaku konsumen, misalnya program belanja, promo kuliner, aktivitas keluarga, hingga penawaran khusus bagi member.

Hal terpenting adalah memastikan bahwa setiap campaign memiliki tujuan yang jelas.

Apakah program ditujukan untuk meningkatkan traffic pengunjung? Mendorong transaksi? Mengaktivasi tenant? Menambah jumlah member baru? Atau memperkuat citra mall?

Ketika tujuan telah ditentukan sejak awal, konsep, mekanisme, komunikasi, dan evaluasi program dapat disusun dengan lebih terarah.

3. Mengintegrasikan Digital Marketing dan Aktivitas Offline

Perilaku konsumen saat ini membuat komunikasi pemasaran perlu hadir melalui berbagai saluran.

Media sosial berfungsi untuk membangun awareness dan interaksi. Media promosi di dalam mall membantu menyampaikan informasi kepada pengunjung yang sudah berada di lokasi. Sementara itu, kolaborasi dengan tenant, komunitas, dan mitra eksternal dapat memperluas jangkauan kampanye.

Integrasi tersebut memungkinkan komunikasi pemasaran berjalan lebih efektif, mulai dari membangun ketertarikan sebelum kunjungan hingga mendorong partisipasi ketika pengunjung berada di mall.

Namun, banyaknya kanal bukanlah ukuran utama keberhasilan. Yang lebih penting adalah kesesuaian pesan dengan target audiens dan kemampuan setiap kanal untuk mendukung tujuan campaign.

4. Membangun Hubungan yang Kuat dengan Tenant

Tenant merupakan bagian penting dari ekosistem pusat perbelanjaan. Karena itu, strategi Marketing Communication perlu memperhatikan kebutuhan bisnis tenant sekaligus kepentingan pengunjung.

Kolaborasi dapat dilakukan melalui program promosi bersama, penawaran khusus, publikasi produk baru, aktivasi tenant, hingga campaign yang mendorong pengunjung mencoba kategori produk tertentu.

Ketika program dirancang dengan baik, mall memperoleh aktivitas yang menarik, tenant memiliki peluang meningkatkan penjualan, dan pengunjung mendapatkan manfaat yang nyata.

Inilah salah satu bentuk pemasaran yang tidak hanya berorientasi pada komunikasi, tetapi juga pada penciptaan nilai bagi seluruh pihak yang terlibat.

Mengapa Customer Service dan CRM Menjadi Bagian Penting dari Strategi Marketing?

Dalam menjalankan peran Marketing Communication di pusat perbelanjaan, keterkaitan antara komunikasi pemasaran, Customer Service, dan Customer Relationship Management (CRM) menjadi semakin penting.

Ketiganya memiliki fokus yang berbeda, tetapi saling melengkapi.

Marketing Communication bertugas membangun awareness, menyampaikan pesan, dan mendorong ketertarikan masyarakat. Customer Service menjaga kualitas interaksi serta membantu menyelesaikan kebutuhan dan permasalahan pengunjung. Sementara itu, CRM berfokus pada pengelolaan hubungan pelanggan melalui data, segmentasi, program loyalitas, dan komunikasi yang lebih relevan.

Dalam struktur kerja yang dipimpin atau dikoordinasikan secara terintegrasi, ketiga fungsi ini dapat menghasilkan pemahaman pelanggan yang lebih menyeluruh.

Contohnya, sebuah campaign berhasil menarik banyak pengunjung ke mall. Namun, keberhasilan tersebut sebaiknya tidak hanya diukur dari jumlah orang yang datang.

Tim marketing juga perlu mengevaluasi apakah pengunjung melakukan transaksi, apakah mereka tertarik bergabung menjadi member, apakah mereka menggunakan benefit yang diberikan, dan apakah mereka kembali berkunjung setelah program berakhir.

Di sinilah CRM memainkan peran penting.

Melalui pengelolaan data yang tepat dan sesuai ketentuan privasi, mall dapat memahami pola perilaku pelanggan, mengenali preferensi mereka, serta merancang penawaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing segmen.

Pelanggan yang tertarik pada kategori kuliner, misalnya, dapat menjadi sasaran program F&B. Sementara itu, pelanggan yang aktif berbelanja di berbagai tenant dapat ditargetkan melalui program reward atau benefit membership yang relevan.

Pendekatan ini membuat komunikasi tidak lagi bersifat umum, tetapi lebih terarah dan memiliki tujuan yang terukur.

Bagi Fazar, integrasi antara Marketing Communication, Customer Service, dan CRM merupakan pendekatan yang penting untuk membangun pemasaran yang lebih berorientasi pada pelanggan.

Sebab, keberhasilan sebuah mall tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak orang yang datang hari ini, tetapi juga oleh seberapa baik mall tersebut mampu membangun hubungan agar pengunjung memiliki alasan untuk kembali.

Strategi Marketing Mall yang Efektif: Kreatif, Relevan, dan Terukur

Persaingan industri pusat perbelanjaan menuntut pengelola mall untuk terus berinovasi. Akan tetapi, inovasi tidak selalu berarti membuat program dengan anggaran besar.

Strategi yang efektif justru dimulai dari ketepatan dalam membaca kebutuhan pasar, menentukan tujuan, memilih pendekatan, dan mengevaluasi hasil.

Berikut beberapa pendekatan yang dapat diterapkan.

1. Mengubah Promosi Menjadi Pengalaman

Diskon dan voucher masih memiliki daya tarik bagi konsumen. Namun, program promosi dapat dibuat lebih menarik dengan menambahkan unsur pengalaman dan partisipasi.

Sebagai contoh, mall dapat mengembangkan aktivitas interaktif, tantangan belanja, permainan sederhana, atau kegiatan yang melibatkan pengunjung secara langsung.

Aktivitas tersebut dapat menjadi bahan percakapan, mendorong partisipasi, dan menciptakan peluang konten organik di media sosial.

Kuncinya adalah membuat mekanisme yang mudah dipahami, hadiahnya relevan, dan manfaatnya jelas bagi pengunjung maupun tenant.

2. Memaksimalkan Kolaborasi untuk Menekan Biaya

Anggaran yang terbatas tidak harus menjadi penghalang untuk menciptakan program pemasaran yang menarik.

Mall dapat membangun kolaborasi dengan tenant, brand, komunitas, institusi pendidikan, maupun mitra lokal yang memiliki target audiens serupa.

Sebagai contoh, program membership dapat dikembangkan melalui penawaran khusus dari tenant. Mall menyediakan kanal komunikasi dan dukungan promosi, sedangkan tenant memberikan benefit sesuai kesepakatan.

Model seperti ini memungkinkan kedua pihak memperoleh manfaat tanpa harus selalu menanggung seluruh biaya program secara mandiri.

Strategi kolaborasi juga dapat membantu memperluas jangkauan audiens dan menghadirkan variasi aktivitas yang lebih menarik.

3. Menjadikan Membership sebagai Alat Membangun Loyalitas

Program membership seharusnya tidak berhenti pada proses pendaftaran.

Jumlah member baru memang menjadi salah satu indikator pertumbuhan, tetapi nilai program akan lebih besar apabila anggota yang sudah terdaftar juga aktif bertransaksi dan kembali menggunakan benefit yang tersedia.

Karena itu, program loyalitas perlu memiliki alasan yang jelas untuk membuat pelanggan bergabung.

Benefit dapat berupa voucher belanja, penawaran eksklusif, hadiah berdasarkan nominal transaksi, promo tenant, atau pengalaman khusus bagi anggota.

Selanjutnya, mall perlu membangun komunikasi berkelanjutan agar pelanggan memahami manfaat membership dan terdorong untuk menggunakannya.

Strategi ini dapat membantu mengubah pengunjung sesekali menjadi pelanggan yang lebih terlibat.

4. Memanfaatkan Data untuk Menentukan Strategi

Setiap campaign sebaiknya dimulai dengan pertanyaan mendasar: masalah apa yang ingin diselesaikan?

Jika jumlah member baru belum mencapai target, strategi perlu diarahkan pada akuisisi dan konversi pengunjung menjadi member.

Jika transaksi program belum optimal, evaluasi dapat difokuskan pada daya tarik benefit, mekanisme program, keterlibatan tenant, dan kemudahan partisipasi.

Jika traffic menurun pada hari kerja, mall dapat mengembangkan aktivitas yang sesuai dengan karakteristik pengunjung pada periode tersebut.

Pendekatan berbasis data membantu tim marketing menentukan prioritas, mengalokasikan anggaran secara lebih bijak, dan mengurangi ketergantungan pada asumsi.

5. Mengukur Keberhasilan Berdasarkan Dampak Bisnis

Program yang ramai belum tentu menghasilkan dampak bisnis yang optimal.

Oleh karena itu, evaluasi perlu disesuaikan dengan tujuan awal campaign.

Beberapa indikator yang dapat digunakan antara lain:

  • Traffic pengunjung: mengukur perubahan jumlah kunjungan selama program berlangsung.
  • Sales dan transaksi: mengevaluasi kontribusi program terhadap aktivitas belanja.
  • New member acquisition: mengukur jumlah anggota baru yang berhasil diperoleh.
  • Member activation: menilai jumlah atau persentase member yang mulai menggunakan benefit atau bertransaksi.
  • Repeat transaction: mengukur kecenderungan pelanggan untuk kembali bertransaksi.
  • Campaign ROI: mengevaluasi hasil program dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan.

Dengan indikator yang tepat, evaluasi tidak hanya menghasilkan laporan mengenai apa yang telah dilakukan, tetapi juga memberikan dasar untuk menentukan strategi berikutnya.

Bagi seorang Marketing Communication profesional, kreativitas dan kemampuan membaca angka perlu berjalan beriringan.

Ide yang menarik akan membuka peluang, sedangkan data membantu menentukan apakah ide tersebut benar-benar memberikan hasil.

Kepemimpinan yang Menghubungkan Komunikasi, Pelayanan, dan Bisnis

Mengelola Marketing Communication yang juga membawahi tim Customer Service dan CRM membutuhkan perspektif yang lebih luas daripada sekadar menyusun kalender promosi.

Diperlukan koordinasi antaranggota tim, kemampuan menetapkan prioritas, komunikasi lintas departemen, serta pemahaman terhadap target perusahaan.

Marketing Communication perlu memastikan bahwa pesan yang disampaikan kepada publik selaras dengan pengalaman yang diterima pengunjung. Customer Service perlu memiliki informasi yang memadai mengenai program yang sedang berjalan. Sementara itu, CRM perlu memastikan bahwa benefit dan komunikasi kepada member dikelola dengan baik.

Ketika ketiga fungsi tersebut berjalan selaras, pengalaman pelanggan menjadi lebih konsisten.

Di sisi lain, kolaborasi dengan departemen operasional, leasing, tenant, finance, dan manajemen juga menjadi faktor penting. Sebuah program pemasaran tidak dapat berjalan optimal hanya dengan ide yang bagus. Program tersebut perlu didukung kesiapan operasional, perhitungan anggaran, kesepakatan dengan tenant, dan mekanisme pelaksanaan yang jelas.

Bagi Fazar, perjalanan dari Sales ke Customer Service hingga Marketing Communication membentuk pemahaman bahwa hasil terbaik muncul ketika setiap fungsi bekerja menuju tujuan yang sama.

Marketing tidak berdiri sendiri. Marketing merupakan bagian dari keseluruhan pengalaman yang diberikan perusahaan kepada pelanggan.

Masa Depan Marketing Pusat Perbelanjaan: Lebih Personal dan Berorientasi pada Pelanggan

Industri pusat perbelanjaan akan terus menghadapi perubahan, mulai dari perkembangan digital, perubahan preferensi generasi muda, persaingan dengan e-commerce, hingga meningkatnya ekspektasi terhadap pengalaman berkunjung.

Dalam situasi tersebut, mall perlu menemukan keseimbangan antara fungsi komersial dan fungsi sosial sebagai ruang berkumpul masyarakat.

Pusat perbelanjaan tidak hanya menjadi tempat untuk membeli produk, tetapi juga destinasi untuk menikmati kuliner, mencari hiburan, mengikuti kegiatan komunitas, dan menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat.

Hal ini membuka peluang bagi Marketing Communication untuk mengembangkan pendekatan yang lebih kontekstual.

Alih-alih sekadar menyampaikan promosi, tim marketing dapat membangun cerita, menghadirkan pengalaman, menciptakan keterlibatan, dan menjalin hubungan yang lebih personal dengan pengunjung.

Teknologi dan data dapat membantu proses tersebut, tetapi pemahaman terhadap kebutuhan manusia tetap menjadi fondasi utamanya.

Pada akhirnya, pelanggan tidak hanya mengingat berapa besar diskon yang mereka dapatkan. Mereka juga mengingat bagaimana sebuah tempat membuat mereka merasa nyaman, dihargai, dan ingin kembali.

Penutup: Marketing yang Baik Dimulai dari Memahami Pelanggan

Perjalanan Fazar Hidayat dari Sales, Customer Service, hingga Marketing Communication memperlihatkan bagaimana pengalaman di berbagai fungsi dapat membentuk cara pandang yang lebih menyeluruh terhadap pemasaran.

Sales memberikan pemahaman tentang kebutuhan konsumen. Customer Service mengajarkan pentingnya pengalaman dan kepercayaan. Marketing Communication memperluas perspektif tersebut menjadi strategi untuk membangun citra, menciptakan keterlibatan, dan mendukung pertumbuhan bisnis.

Ketika ketiganya dipadukan dengan CRM dan pengambilan keputusan berbasis data, pemasaran memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan dampak yang berkelanjutan.

Di tengah persaingan pusat perbelanjaan yang semakin kompetitif, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana membuat pengunjung datang, melainkan bagaimana memberikan alasan yang cukup kuat agar mereka memilih untuk kembali.

Karena pada akhirnya, marketing terbaik bukan hanya tentang seberapa keras sebuah brand berbicara, tetapi seberapa baik brand tersebut memahami, melayani, dan membangun hubungan dengan pelanggannya.

Dan di situlah nilai sesungguhnya dari Marketing Communication: menghubungkan brand dengan manusia, komunikasi dengan pengalaman, serta kreativitas dengan hasil bisnis.

 


Share

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel